Jumat, 29 Juli 2016

Cara Pembuatan Koloid – Cara Kondensasi Dan Cara Dispersi Terlengkap!

Sistem koloid berada di antara larutan sejati dan suspensi. Jadi, susu merupakan koloid yang berada di antara larutan gula (larutan sejati) dan campuran air dengan pasir (suspensi). Oleh karena itu, sistem koloid dapat dibuat dari larutan sejati dan suspensi. Koloid yang berasal dari larutan sejati dibuat dengan cara kondensasi. Caranya, dengan menggabungkan partikel-partikel dalam larutan sejati hingga menjadi partikel berukuran koloid. Sementara itu, koloid yang berasal dari suspensi dibuat melalui cara dispersi. Caranya, dengan menghaluskan partikel-partikel suspensi hingga berukuran partikel koloid dan men-dispersikannya dalam medium pendispersi.

Cara Kondensasi

Pembuatan koloid dengan cara kondensasi dibedakan menjadi dua, yaitu cara kimia dan fisika. Kedua cara ini banyak diterapkan untuk membuat koloid tipe sol, khususnya sol emas dan sol belerang.

a. Cara Kimia

Pembuatan koloid dari larutan sejati dengan cara reaksi kimia dapat dilakukan dengan empat macam, yaitu melalui reaksi pengendapan, reaksi hidrolisis, reaksi pemindahan, dan reaksi redoks.
Reaksi pengendapan
Pembuatan koloid melalui reaksi pengendapan dilakukan dengan cara mencampurkan dua macam larutan elektrolit, hingga menghasilkan endapan yang berukuran koloid, contoh pembuatan sol AgCI.
Sol AgCI dibuat dengan cara mencampurkan larutan AgN03 encer dengan larutan HCI encer atau NaCI encer. Reaksi yang terjadi sebagai berikut.
AgNO3(aq) + HCl(aq)→AgCl(s) + HNO3(aq)
AgNO3(aq) + NaCI(aq) AgCI(s) + NaN03(aq)


Reaksi hidrolisis
Koloid dapat dibuat melalui reaksi hidrolisis, yaitu dengan mereaksikan garam tertentu dengan air. Misalnya Sol Fe(OH)3. Sol Fe(OH)3 dibuat dengan cara menambahkan larutan FeCI3 ke dalam air mendidih. Larutan FeCI3akan terionisasi menghasilkan ion Fe3+. Ion Fe3+ ini akan mengalami reaksi hidrolisis menjadi Fe(OH)3. Reaksi yang terjadi:
FeCI3(aq) + 3H20(ℓ) → Fe(OH)a(s) + 3HCl(aq).


Reaksi pemindahan/substitusi
Contoh koloid yang dibuat dengan cara pemindahan yaitu sol As2S3. Sol As2S3 dibuat dengan cara mengalirkan gas asam sulfida ke dalam larutan arsen(lll) oksida. Reaksinya:
As203(aq) + 3H2S(g) →As2S3(s) + 3H20(ℓ).
 Koloid lain yang dibuat melalui reaksi pemindahan yaitu sol belerang. Sol ini dibuat dengan menambahkan larutan HCI ke dalam larutan Na2S203. Campuran ini akan menghasilkan partikel- partikel belerang yang berukuran partikel koloid. Reaksi pada pembuatan koloid belerang sebagai berikut.
Na2S203(aq) + 2HCI (aq) → 2NaCl(aq) + H2SO 3(aq) + S (s).

Reaksi redoks
Pembuatan koloid dengan reaksi redoks selalu disertai dengan perubahan bilangan oksidasi, misal pada pembuatan sol emas den sol belerang.
  • Sol emas (Au)
    Sol emas dibuat dengan mereduksi larutan garamnya menggunakan reduktor non- elektrolit seperti formaldehid.
    Reaksinya: 2AuCI3 (aq) + 3HCHO(aq) + 3H20 (ℓ) → 2Au(s)+ 6HCI (aq) + 3HCOO H(aq)
  • Sol belerang (s)
    Sol belerang dibuat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan S02 atau ke dalam larutan H2O2. Reaksi yang terjadi:
    2H2S(g) + S02(aq) → 3S(s) + 2H2O(ℓ)
    H2S (g) + H202(aq) → S(s) + 2h2O(ℓ)

b. Cara Fisika

Cara fisika digunakan untuk membuat koloid dengan cara mengkondensasikan partikel koloid. Proses ini dilakukan melalui cara-cara berikut.
Pengembunan uap
Cara pengembunan uap diterapkan pada pembuatan sol raksa (Hg). Sol raksa dibuat dengan menguapkan raksa. Uap raksa selanjutnya dialirkan melalui air dingin sehingga mengembun dan diperoleh partikel raksa berukuran koloid.
Pendinginan
Suatu koloid dapat dibuat melalui proses pendinginan, tujuannya untuk menggumpalkan suatu larutan sehingga menjadi koloid karena kelarutan suatu zat sebanding dengan suhu.
Penggantian pelarut
Penggantian pelarut digunakan untuk mempermudah pembuatan koloid yang tidak dapat larut dalam suatu pelarut tertentu, misalnya pada pembuatan sol belerang. Belerang sukar larut dalam medium air. Oleh karena itu, air diganti dengan alkohol. Sol belerang dalam air, dibuat dengan cara melarutkan belerang ke dalam alkohol hingga diperoleh larutan jenuh. Larutan jenuh ini selanjutnya diteteskan sedikit demi sedikit ke dalam air hingga terbentuk sol belerang.

Cara Dispersi

Dispersi merupakan cara pembuatan koloid yang berasal dari suspensi. Pembuatan koloid dengan cara dispersi dapat dilakukan dengan cara busur Bredig, mekanik, peptisasi, dan homogenisasi.
Cara Busur Bredig
Pembuatan koloid dengan cara busur Bredig sering disebut juga dengan elektrodispersi. Cara ini dilakukan untuk membuat partikel-partikel fase terdispersi dengan menggunakan loncatan bunga api listrik. Cara ini banyak digunakan untuk membuat sol logam. Logam yang akan didispersikan dipasang sebagai elektrode-elektrode yang dihubungkan dengan sumber arus listrik bertegangan tinggi. Loncatan bunga api listrik yang muncul di antara kedua elektrode akan menguapkan sebagian logam. Uap logam yang terbentuk di dalam medium dispersi akan menyublim dan membentuk partikel halus. Cara busur Bredig biasa digunakan untuk membuat sol emas dan sol platina.
Cara Mekanik
Pembuatan koloid dengan cara mekanik dilakukan dengan cara penggerusan zat padat hingga halus, kemudian didispersikan ke dalam medium pendispersi. Namun, pada proses ini fase terdispersinya kadang-kadang mengalami penggumpalan kembali sehingga perlu ditambahkan sta­bilizer atau zat pemantap. Contoh pada pembuatan mentega, tinta, dan cat.
Cara Peptisasi
Cara peptisasi adalah cara pembuatan koloid dengan jalan memecah partikel zat yang mengendap dalam medium pendispersi air menjadi berukuran partikel koloid. Proses ini diikuti dengan penambahan suatu elektrolit atau dengan menghilangkan ion-ion elektrolit penyebab pengendapan.
Cara peptisasi ini digunakan pada pembuatan sol perak iodida (Agl). Sol perak iodida dibuat dengan cara mencampur larutan AgN03 dengan larutan Kl berlebih. Campuran kedua larutan ini menghasilkan endapan Agl. Endapan Agl kemudian dicuci agar mengalami peptisasi, yaitu terbentuknya partikel koloid Agl. Pencucian mengakibatkan hilangnya kelebihan elektrolit sehingga Agl dapat terdispersi kembali.
Cara Homogenisasi
Homogensasi adalah cara yang digunakan untuk membuat suatu zat menjadi homogen dan berukuran partikel koloid. Misal untuk membuat koloid tipe emulsi, seperti susu. Pada pembuatan susu, ukuran partikel lemak pada susu diperkecil hingga berukuran partikel koloid. Caranya dengan melewatkan zat tersebut melaiui lubang berpori yang mempunyai tekanan tinggi. Apabila partikel lemak dengan ukuran partikel koloid sudah terbentuk, zat tersebut kemudian didispersikan ke dalam medium pendispersinya.
Demikian penjelasan yang bisa kami sampaikan tentang Cara Pembuatan Koloid – Cara Kondensasi Dan Cara Dispersi. Semoga postingan ini bermanfaat bagi pembaca dan bisa dijadikan sumber literatur untuk mengerjakan tugas. Sampai jumpa pada postingan selanjutnya.

Termokimia

Interaksi antara sistem dan lingkungan dapat berupa pertukaran energi atau materi. Pertukaran energi ini dapat berupa kalor atau bentuk energi lain. Adanya pertukaran energi tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan jumlah energi yang terkandung dalam sistem. Berdasarkan interaksinya dengan lingkungan, sistem digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu sistem terbuka, sistem tertutup, dan sistem terisolasi atau tersekat.

1. Sistem Terbuka

Sistem terbuka memungkinkan terjadinya pertukaran kalor dan materi antara sistem dan lingkungan. Contoh sistem terbuka adalah reaksi pemanasan kalium karbonat dalam gelas beker.

2. Sistem Tertutup

Sistem tertutup adalah suatu sistem yang memungkinkan terjadinya pertukaran kalor antara sistem dan lingkungannya, tetapi tidak terjadi pertukaran materi. Contoh sistem tertutup adalah reaksi antara batu kapur dengan air dalam erlenmeyer yang ditutup.

3. Sistem Terisolasi atau Tersekat

Pada sistem terisolasi, tidak mungkin terjadi pertukaran kalor dan materi antara sistem dengan lingkungan. Contoh sistem terisolasi adalah air dalam termos.
Entalpi adalah keseluruhan energi dalam bentuk kalor yang terdapat dalam suatu sistem. Entalpi dalam sistem bersifattetap selama tidak terjadi pertukaran energi antara sistem dengan lingkungan. Entalpi dinyatakan dengan huruf H dengan satuan joule (J). Besarnya entalpi tidak dapat ditentukan, yang dapat ditentukan adalah perubahannya, dinyatakan dengan ΔH.
Perubahan entalpi (ΔH) yaitu perubahan kalor yang terjadi pada suatu reaksi kimia. Besarnya perubahan entalpi diperoleh dari selisih antara entalpi produk dengan entalpi reaktan.

Jenis Reaksi Termokimia

Berdasarkan pertukaran kalor antara sistem dengan lingkungan, reaksi termokimia dibedakan menjadi
dua yaitu reaksi eksoterm dan reaksi endoterm.

a. Reaksi Eksoterm

Dalam reaksi eksoterm entalpi zat yang bereaksi lebih besar daripada entalpi hasil reaksi. Oleh karena itu, terjadi perpindahan kalor  dari sistem ke lingkungan. Dalam hal ini dapat diartikan bahwa kalor dilepaskan ke lingkungan. Aliran kalor tersebut digambarkan seperti gambardisamping.
Contoh reaksi eksoterm sebagai berikut.
  1. Fermentasi glukosa: C6H12O6(s) —> 2C2H5OH(ℓ) + 2CO2(g)Pada reaksi ini sistem mengalami kenaikan suhu sistem.
  2. Reaksi logam Na dengan air:2Na(s) + 2H2O(ℓ) -> 2NaOH(aq) + H2(g)Reaksi ini disertai ledakan dan kenaikan suhu sistem.
Reaksi eksoterm mengalami penurunan energi kimia sistem sehingga entalpi sistem berkurang.  Oleh sebab itu ΔH reaksi eksoterm bertanda negatif (-).

b. Reaksi Endoterm

Dalam reaksi endoterm entalpi zat yang bereaksi lebih kecil daripada Kaior
entalpi zat hasil reaksi. Oleh karena itu, terjadi perpindahan kaior dari lingkungan ke sistem. Aliran kaior tersebut digambarkan seperti gambar di samping.
Contoh reaksi endoterm adalah pelarutan urea dalam air dengan reaksi:
CO(NH2)2(S) + H2O(ℓ) -> CO(NH2)2(aq) + H20 (ℓ) . Setelah urea larut suhu sistem mengalami penurunan.
Dalam reaksi endoterm kalor diserap oleh sistem sehingga energi kimia sistem meningkat dan entalpi sistem juga bertambah. Oleh karena itu, ΔH reaksi endoterm bertanda positif (+).

Perubahan Entalpi pada Reaksi Termokimia

Persamaan termokimia merupakan persamaan reaksi yang dilengkapi dengan perubahan entalpi (ΔH). Selain itu, dalam persamaan termokimia juga mencantumkan jumlah mol zat yang dinyatakan dengan koefisien reaksi dan fase zat yang terlibat dalam reaksi, dengan satuan kilojoule (kJ). Sementara itu, satuan perubahan entalpi dalam molar yaitu kJ/mol atau kJ mol-1.

a. Reaksi Endoterm

Pada reaksi endoterm, entalpi produk lebih besar daripada entalpi reaktan sehingga entalpi sistem pada reaksi endoterm bertambah.
Oleh karena itu, ΔH > 0.

b. Reaksi Eksoterm

Pada reaksi eksoterm, entalpi produk lebih kecil daripada entalpi reaktan sehingga entalpi sistem pada reaksi eksoterm berkurang. Oleh karena itu, ΔH < 0.
Penulisan dan interpretasi persamaan termokimia diatur dalam pedoman berikut.
  1. Koefisien stoikiometri menunjukkan jumlah mol suatu materi.
  2. Jika letak reaktan dan produk pada persamaan dibalik, tanda ΔH-nya berubah menjadi kebalikannya.
    Contoh:
    Proses pembekuan air menjadi es membebaskan kalor sebesar 6,01 kj.
    H2O(ℓ)  -> H2O(s) ΔH = -6,01 kj/mol
    Dengan demikian, untuk reaksi pelelehan es menjadi air memerlukan kalor sebesar 6,01 kj.
    H2O(s) -> H20(ℓ) ΔH = +6,01 kj/mol
  3. Jika koefisien persamaan digandakan, nilai*AH juga digandakan sesuai dengan perubahan faktor koefisien persamaan.
    Contoh:
    Jika koefisien persamaan pelelehan es digandakan dua kalinya, perubahan entalpinya juga dikalikan dua. Persamaan reaksi termokimianya menjadi:
    2H2O(s) -> 2H20(ℓ) ΔH = +6,01 kj/mol
  4. Wujud zat yang terlibat dalam reaksi harus ditulis dalam kurung dan italic untuk membantu menentukan perubahan entalpinya. Zat padat dinyatakan dengan (s), larutan dinyatakan dengan (aq), zat cair dinyatakan dengan (ℓ), dan zat gas dinyatakan dengan (g).
Demikian penjelasan yang bisa kami sampaikan tentang Termokimia – Pengertian, Reaksi Termokimia dan Perubahan Entalpi. Semoga postingan ini bermanfaat bagi pembaca dan bisa dijadikan sumber literatur untuk mengerjakan tugas. Sampai jumpa pada postingan selanjutnya

Laju Reaksi

Metode Aljabar dalam Penentuan Orde Reaksi Dua Zat dengan Data Konsentrasi Berbeda-beda pada Laju Reaksi

Berikut ini adalah pembahasan soal mengenai orde reaksi untuk persamaan laju reaksi dan reaksi antara dua zat yang berbeda-beda konsentrasi pada data percobaan. Pembahasan dengan menggunakan aturan logaritma natural (ln) sudah saya tulis pada tulisan di sini. Untuk metode trial and error and true juga sudah saya tulis di sini. Sebagai pembanding berikut ini cara yang lebih simpel, lebih sederhana dan cukup bisa dipertanggungjawabkan:) . Penentuan orde reaksi dua zat dengan data konsentrasi yang berbeda-beda pada laju reaksi dengan menggunakan persamaan linier atau metode/cara aljabar.
Ok kembali pada data hasil percobaan terhadap penentuan orde rekasi seperti pada buku kimia kelas 11 BSE penulisnya Nenden Fauziah halaman 73 soal nomor 5? Tabel saya salin dan sedikit saya modifikasi berikut ini. Bagaimana menentukan orde reaksinya, agar lebih mudah, dan tidak hanya sekedar coba-coba, tapi juga tidak menggunakan angka yang rumit.
Berikut ini pembahasannya:
Dengan demikian hasil penentuan orde reaksi dengan metode atau cara aljabar atau persamaan linier ini sama dengan penentuan orde reaksi dengan menggunakan cara logaritma dan cara trial and error and true.